Oleh: Jonnes
Orang bilang politik itu “kejam” ya begitulah. Apapun akan dilakukan apabila keinginan atau maksud tertentu dapat terwujud, itu lah politik. Tak perduli sanak saudara, kerabat, handaitolan, teman dan lainnya, bahkan terhadap anak-anak sekalipun.
Di negeri ini politik tidak pandang lagi siapa yang didepan. Asalkan keinginan dapat dicapai siapapun akan dikorbankan. Apabila sudah terjadi komflik, disitulah mereka ingin menjadi pahlawan, seperti ibarat pepatah “menangguk di air keruh”. Memanfaatkan situasi untuk kepentingan politiknya.
Baru-baru ini disuatu daerah, diduga akibat perseteruan politik, dua sekolah disegel oleh pihak yang mengaku pemilik lahan, yakni SLTP dan SD, sehingga anak sekolah yang menjadi korban. Betapa kejamnya mereka demi mencapai keinginannya tak segan- segan mengobankan anak-anak sekolah, sehingga membuat anak-anak jadi trauma untuk datang ke sekolah.
Hari ini masyarakat tidaklah bodoh, masyarakat sudah cerdas melihat sebuah persoalan. Berdalih pemerintah tidak transparan atas lahannya, padahal itu sudah tercatat sebagai aset negara.
Yang anehnya lagi persolan itu selalu mencuat diwaktu akan ada pemilihan kepala daerah baru. Jadi masyarakat berasumsi konflik tersebut sengaja diciptakan untuk kepentingan politik seseorang.
Ya..mungkin saja pemilihan kepala daerah tidak lama lagi dan mungkin ini salah satu cara untuk mencari perhatian publik sehingga dianggap orang yang mampu untuk menjadi kepala daerah.
Tetapi cara yang dilakukannya tidaklah terpuji. Demi kepentingan mereka, anak-anak dikorbankan, sungguh naif…
Mungkin saja dia menganggap dirinya pahlawan, begitu juga pihak yang membuat konflik. Mereka beranggapan usahanya untuk meningkatkan elektabilitas orang yang didukungnya meningkat sesuai harapan.
Semoga asumsi atau opini ini tidaklah seperti dugaan diatas….
